Dispendik Jatim Revisi Peringkat Unas SMP

webmasterBeritaLeave a Comment

SURABAYA – Protes beberapa SMP di Surabaya terkait dengan peringkat nilai akhir ujian nasional (unas) ditanggapi Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim. Mereka merivisi daftar ranking itu kemarin (6/6).

Disebutkan, dalam daftar peringkat yang diberikan Dispendik Jatim beberapa waktu lalu, peringkat pertama nilai akhir unas diraih SMPN 3 Surabaya. Selanjutnya, berturut-turut ada SMPN 1 Surabaya, SMPN 19 Surabaya, dan SMPN 26 Surabaya.

Setelah dilakukan penyempurnaan, ada perubahansusunan peringkat. Peringkat pertama tetap diraih SMPN 3 Surabaya. Disusul SMPN 1 Surabaya, SMPN 9 Surabaya, SMPN 6 Surabaya, dan SMPN 12 Surabaya.

Kepala Dispendik Jatim Harun mengatakan, semua data yang tercetak tersebut berasal dari Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BANP). Didampingi Kasi Kurikulum Pendidikan Menengah Pertama dan Pendidikan Menengah Atas Dispendik Jatim Hudiyono, dia mengatakan, setelah dikoordinasikan, ternyata ada nilai yang masih mengalami masalah (trouble). “Setelah sicek lagi dengan BSNP, memang sekarang ada penyempurnaan,” katanya.

Dia memisalkan, nilai SMPN 6 Surabaya tidak keluar dalam sepuluh peringkat teratas karena beberapa hal. Di antaranya, lembar jawaban komputer (LJK) siswa tidak lengkap. Misalnya, kode program salah, kertas LJK-nya terlipat, dan lain-lain. “Sehingga bisa tidak ada nilainya,” katanya.

Terkait dengan bagaimana peringkat tersebut bisa keliru, pihaknya tidak bisa berkomentar. “Kami dapat data dari Puspendik (Pusat Penilaian Pendidikan, Red). Itu Puspendik pusat yang tahu jawabannya,” kilahnya.

Sedangkan untuk peringkat siswa peraih unas di Surabaya, tidak ada perubahan susunan. Peringkat tertinggi nilai akhir unas di Surabaya tetap diraih Fernaldy Frumentius Sutandyo dengan nilai total 38,40. Disusul Aquila Carol Adimurti dengan nilai 38,20.

Kabid Pendidikan Dasar Dispendik Surabaya Eko Prasetyoningsih mengakui, banyak sekolah maupun pihak wali murid yang protes terhadap letidaksinkronan data tersebut. Apalagi, sekolah sebentar lagi akan melaksanakan penerimaan siswa baru. “Tentu terkait dengan kualitas lembaga yang bersangkutan,” katanya.

Setelah banyak protes dari wali murid dan sekolah karena data yang tidak sama, pihaknya juga mencermati jika ada nilai sekolah-sekolah yang belum keluar. “Sudah kami koordinasikan dan sudah diselesaikan,” jelasnya. (puj/c9/ang)

 

Sumber : Harian Jawa Pos “Metropolis ” hal. 29 , Selasa 7 Juni 2011

Leave a Reply